Senin, 08 Desember 2014

Birokrasi Baru? Jangan Jalan Ditempat!




Setelah publik menanti-nanti dan bertanya-tanya siapa saja yang masuk kedalam kabinet Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) , akhirnya terjawab. Seminggu sudah masyarakat dibuat menunggu terkait susunan kabinet yang tak kunjung diumumkan. Berbagai media massa dan sejumlah pihak mencoba menebak-nebak daftar nama calon menteri pun menuai kontroversi. Ada yang berspekulasi Kabinet Jokowi-JK bersifat transaksional, jatah parpol berkurang, kabinet Jokowi terganjal KPK atau lingkaran koalisi, dan lain sebagainya.

Tepatnya tanggal 26 Oktober 2014 pukul 16.00 WIB , Presiden Jokowi menepati janjinya setelah sempat satu kali ia membatalkan untuk mengumumkannya. Daftar menteri yang akan membantunya selama lima tahun kedepan sebagian besar publik salah menebaknya. Ada beberapa calon menteri yang digadang-gadang akan muncul namun ternyata tidak masuk dalam kabinet. Namun disitulah letak menariknya bagaimana media massa secara serta-merta beropini dan rakyat pun jangan sampai secara mentah menelan informasi yang masih bersifat abu-abu.

Kabinet yang telah tersusun diberi nama Kabinet Kerja. Cukup menarik jika menilik nama Kabinet tersebut. Menekankan kata “kerja” seperti saat paska dilantik, beliau mengatakan saatnya kerja kerja kerja untuk bangsa. Inilah saatnya Jokowi bersama para menterinya untuk merealisasikan program kerja mereka dan stop euforia berlebihan.

Berbagai tugas sudah menanti didepan mata. Janji-janji semasa kampanye harus segera diwujudkan. Perbaikan birokrasi sangat ditunggu oleh rakyat. Pemerintahan Jokowi juga harus dapat menjalin kerja sama yg baik dengan Koalisi Merah Putih (KMP) sebagai koalisi oposisi. Membuat kondisi politik yang sempat panas sedikit mencair itu diperlukan. Menunjukan kepada masyarakat bahwa kehadiran KMP menjadi penyeimbang pemerintahan bukan musuh. Perbedaan dalam demokrasi itu sangat wajar. Dinamika politik seringkali berubah-ubah dan disitulah peran media massa dalam menetralkan situasi diperlukan.

Mengambil contoh dari sisi ekonomi, pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan Subsidi BBM perlu menjadi poin-poin utama. Industri pangan dan petumbuhan ekonomi dalam negeri harus mengalami penguatan. Sejalan dengan program Revolusi Mental, masyarakat dituntut untuk bangga akan produk Indonesia dalam persaingan produk global. Subsidi BBM bagai hidup segan mati tak mau. Bila tidak segera dilakukan pengurangan subsidi, APBN pun terancam anggarannya. Bila harga BBM naik, tentu saja akan memberatkan rakyat dan semua komoditas pangan pun ikut naik harganya. Sedangkan disisi pendidikan penerapan wajib belajar 12 tahun harus bersifat nasional. Mencerdaskan kehidupan bangsa sudah menjadi tujuan bangsa Indonesia.

Tindakan Presiden Jokowi meminta verifikasi calon menteri kepada KPK – PPATK menurut saya adalah sebuah tradisi politik baru guna menciptakan pemerintahan yang bersih, demokratis, berintegritas dan profesional. Kita mengharapkan semua orang yang terpilih dalam Kabinet Kerja dapat berkerja dengan baik dan kompeten sehingga harapan rakyat Indonesia, khususnya terhadap penyelesaian berbagai masalah yang telah menghadang bisa terpenuhi. Jangan sampai membuat negara ini jalan ditempat. Selamat bekerja.

                                                            Ginta Febryana Ramadhani
Mahasiswi Jurusan Ilmu Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta
Lokasi: New York, Amerika Serikat

0 komentar:

Posting Komentar